Independent, Persuasif, Mendidik,
Contoh Surat Rekomendasi
SURAT REKOMENDASI
Nomor : 01/SR/SMK-THK/XI/2021
Yang bertanda tangan dibawah ini Kepala SMKS Telekomunikasi Harapan Kita Ketanggungan
Nama : AZIZ ROYANDI, S.Pd.
Tempat Tanggal Lahir : Brebes, 21 April 1995
Alamat : Desa Jatibarang Rt 001 Rw 002 Kec. Wanasari Kab. Brebes
Jabatan : Kepala SMKS Telekomunikasi Harapan Kita
Memberikan Rekomendasi Kepada :
Nama : ASTHIRENA DEWI ADDHINIE, S.Pd.
Tempat, Tanggal Lahir : Brebes, 29 Januari 1996
Alamat : Desa Jagakarsa RT 01 RW 01 Kec Ketanggungan Kab Brebes
Jabatan : Guru
NUPTK :-
Untuk Mengikuti Kegiatan Pemagangan dalam Negeri yang diselenggarakan Oleh kementerian pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Tahun Anggaran 2022 sebagai upaya peningkatan mutu atau kualitas sumberdaya manusia.
Demikian surat rekomendasi ini dibuat untuk dapat dipergunakan dengan sebagaimana mestinya.
Brebes, 29 November 2021
Kepala SMKS Telekomunikasi Harapan Kita
AZIZ ROYANDI, S.Pd.
Kehadiran berbagai macam jurusan dalam dunia
pendidikan disekolah menengah kejuruan nampaknya sangat berarti dalam membekali
peserta didik. salah satunya adalah jurusan multimedia. jurusan yang sangat
identik dengan teknologi telekomunikasi ini semakin populer ditengah merebaknya
virus corona. hal ini disebabkan adanya perubahan pola hidup konvensional yang
dilakukan oleh banyak manusia didunia. sebagai contoh dalam usaha jual beli,
iklan, pendidikan, transportasi, dan akomodasi lainnya.
Iklan yang dahulu banyak menggunakan media
cetak kini sudah banyak ditemukan inovasi secara digital. Jual beli yang dahulu
harus datang melalui pasar kini cukup hanya dengan membuka platform aplikasi
jual beli. Pendidikan yang dahulu tatap muka dan setiap hari harus kesekolah
kini cukup melalui media zoom atau platform belajar online lainnya. Pemesanan tiket
nonton, perjalanan, penginapan, kini sudah dilakukan melalui booking secara
daring dengan transaksi e-money. Nah, cukup banyak bukan manfaat yang dihasilkan
dari kemajuan teknologi, Oleh sebab itu menekuni jurusan multimedia cocok
sekali anda pilih sebagai focus jurusan yang anda geluti setelah lulus SLTP /
MTs.
Prospek Lulusan Multimedia berpeluang besar
untuk menjadi tenaga Profesional dalam bidang kerja dibawah ini,
- Graphic
Designer
Designer Grafis banyak membuat design Media Cetak, Website dan
Desain Kemasan baik itu dinaungan Perusahaan ataupun Bekerja Sendiri ( Freelance ).
2. Web Designer
Web Disigner menggeluti bidang design website yang sekarang
banyak digunakan dikantor swasta maupun pemerintah untuk menggambarkan
visualisasi dari perusahaaan tertentu sehingga lebih mudah diakses oleh banyak
orang.
3. Animator/ Ilustrator
Prospek Kerja ini sedang tren pada saat ini, Biasanya Ilustrator
yang saat ini sedang Hype yaitu Komik, dimana sekarang banyak sekali Komikus -
Komikus Online yang Share Karya nya di sosial Media.
4. Video Editor
Prospek Kerja pada Posisi ini biasa terdapat pada Rumah Produksi
Film ataupun Iklan, Tapi banyak juga yang bekerja sendiri menjadi Video
Editor ini.
5. Game Maker/Modeling
Industri Game saat ini sedang naik daun, maka banyak juga game
maker yang membuat game yang simple dan seru untuk di mainkan
Dalam buku sejarah Indonesia terbitan Erlangga karangan Ratna Hapsari disebutkan bahwa terbentuknya kepulauan Indonesia diproses melalui empat penyebab antara lain
Tenaga Endogen
tenaga endogen merupakan tenaga yang berasal dari dalam perut bumi berupa gerakan lempengan tektonik. gerakan lempeng ini diyakini menjadi pengaruh terbesar terbentuknya daratan Indonesia. pada zaman Mesozoikum disebutkan bahwa yang sekarang menjadi Indonesia dulunya adalah samudra yang sangat luas dan hampir menutupi seluruh permukaan. sedangkan lempengan yang membentuk daratan Indonesia terdiri dari lempengan indo-australia, lempeng Eurasia dan lempeng Pasifik. lempeng Eurasia berada di bagian utara Indonesia bergerak dari utara ke arah selatan dan Tenggara. lempeng indo-australia bergerak ke arah timur Indonesia sedangkan lempeng Pasifik bergerak ke arah barat Indonesia kecepatan gerakan lempengan tersebut berkisar antara 7 cm sampai dengan 9 cm per tahun . pergerakan tersebut kemudian bertemu pada Satu zona tumbukan yang disebut dengan zona subduksi.
Tenaga Eksogen
Tenaga Eksogen merupakan tenaga yang berasal dari luar secara umum tenaga eksogen bersifat merubah bentuk permukaan bumi sumber tenaga eksogen antara lain atmosfer, air, gletser, dan organisme.
Perubahan Iklim
Perubahan Iklim berupa turunan sekitar 60 sampai Medan di bawah muka semula karena bagian terbesar air membeku terutama di bagian bumi utara dan selatan laut laut yang dangkal tersebut kemudian menjadi daratan kondisi yang berlangsung pada masa pleistosen antara 3000 sampai 10000 tahun yang lalu ini disebut juga zaman es atau zaman glasial. disebut zaman glasial karena bumi pada saat itu temperatur yang menjadi sangat rendah dan dancer yang berada di wilayah Kutub Utara mencair hingga menutupi sebagian besar seperti Asia Eropa dan Amerika. setelah itu pecahan-pecahan es tersebut menyebar ke daerah-daerah sekeliling benua tersebut. meluasnya permukaan es menyebabkan turunnya permukaan air laut turunnya air laut sampai mencapai kedalaman 100 sampai 150 meter dari permukaan semula
Letusan gunung api
keadaan alam yang belum stabil tampak dari adanya letusan gunung api hal ini juga dapat Jelaskan sebagai berikut. lempeng tektonik itu berupa massa batuan yang sangat besar Oleh karena itu energinya besar pula lempeng-lempeng yang terus bergerak pada suatu saat mengalami gesekan atau benturan yang sangat keras yang dapat menimbulkan gempa bumi. Itulah sebabnya kepulauan Indonesia Rentan mengalami kejadian gunung meletus gempa bumi dan tsunami
Istilah terkait
atmosfer : Lapisan udara yang mengelilingi bumi
tsunami : gelombang air besar
geothermal : panas Bumi
PLTPB : pembangkit listrik tenaga panas bumi
Tremor : Getar
seismograf : alat ukur gempa
Epicentrum : Pusat Gempa
Belajar
merupakan kegiatan sadar dan terencana yang dilakukan oleh seseorang untuk
memahami suatu materi tertentu yang digelutinya. Pelaksanaan pembelajaran
diberbagai jenjang satuan pendidikan memiliki jenis materi yang berbeda-beda.
Hal tersebut disesuaikan dengan kemampuan dan jenis program kejuruan yang
ditekuni sebagai upaya untuk memaksimalkan hasil proses belajar, sehingga
diharapkan mampu memberikan hasil yang maksimal bagi peserta didik
dimasing-masing kompetensi yang ditekuni. Salah satunya pembelajaran di sekolah
menengah kejuruan atau biasa disingkat SMK. Smk sebagai salah satu lembaga
pendidikan vokasi mengharuskan agar
peserta didiknya memiliki kempetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Oleh sebab itu sekolah perlu mempersiapkanya dari berbagai aspek seperti,
fasilitas pembelajaran, praktikum, dan tidak kalah pentingnya yaitu metode
mengajar.
Metode
mengajar sebenarnya tidak mengharuskan dengan cara modern seperti metode yang
ramai dilakukan ditahun 2020 ini, dalam artian melalui media visual berupa
metode dalam jaringan (daring). Karena hal tersebut tidak selalu pas dengan
materi yang akan disampaikan. Sehingga
pendidik perlu melakukan kajian atau analisis terhadap masing-masing materi
yang akan disampaikan baik itu cara
virtual maupun konvensional. Selain itu untuk mempermudah guru agar lebih mudah
dalam melakukan langkah pembelajaran diperlukan pula penyusunan perangkat
pembelajaran meliputi, Silabus, RPP, Prota, Promes, serta Jurnal Mengajar.
Komponen tersebut merupakan perangkat yang wajib dimiliki guru sebelum
melakukan kegiatan mengajar dikelas. Namun banyak ditemukan guru yang tidak
membuat jurnal mengajar, jurnal mengajar sendiri berbeda dengan jurnal kelas
meskipun keduanya memiliki kesamaan yaitu berupa catatan tentang materi yang
disampaikan guru dikelas. Perbedaanya dari keduanya terletak pada pengisi
jurnal. Jurnal kelas diisi oleh semua guru yang telah melaksanakan kegiatan
belajar dimasing-masing kelas. Sedangkan jurnal mengajar diisi oleh satu guru
sesuai mapel dalam berbagai kelas yang diampunya.
Jurnal
mengajar memiliki kegunaan untuk mempermudah guru dalam mengingat materi yang
telah disampaikan kepada peserta didik, karena didalamya berisi judul dari
materi maupun sub materi yang telah disampaikan kepada peserta didik. selain itu jurnal mengajar juga berguna untuk bahan evaluasi diri guru selama kegiatan mengajar tiap semester, baik tentang berapa kali pertemuan yang telah dilaksanakan guru mata pelajaran pada kelas tersebut, maupun, materi apa saja yang telah disampaikan. Sehingga penting
bagi guru untuk dapat menyusun sekaligus memiliki jurnal mengajar.
Berikut ini
saya berikan contoh jurnal mengajar yang dapat dimanfaatkan bagi bapak dan ibu
guru sebagai pegangan dalam mengajar.
Sebagai
seorang pelajar tentu kita tidak asing dengan penggunaan tanda seperti, koma,
titik, tanda kurung, maupun tanda hubung. Nah Setelah kita belajar tentang
jenis Konjungsi ( Kata Hubung) selanjutnya kita akan beralih ke materi Tanda
Hubung. Tanda hubung merupakan tanda yang digunakan untuk menghubungkan
Frase-Klausa dan juga untuk memisahkan frasa atau klausa. Tanda hubung (-) atau
Strip digunakan untuk beberapa hal, berikut ini ketentuan tentang penggunaanya.
III.E.1. Tanda hubung dipakai untuk
menandai bagian kata yang terpenggal oleh pergantian baris.
Misalnya:
·
Di samping cara lama, diterapkan
juga ca-
ra baru ….
·
Nelayan pesisir itu berhasil
membudidayakan rum-
put laut.
·
Kini ada cara yang baru untuk
meng-
ukur panas.
·
Parut jenis ini memudahkan kita
me-
ngukur kelapa.
III.E.2. Tanda hubung dipakai untuk
menyambung unsur kata ulang.
Misalnya:
·
anak-anak
·
berulang-ulang
·
kemerah-merahan
·
mengorek-ngorek
III.E.3. Tanda hubung dipakai untuk
menyambung tanggal, bulan, dan tahun yang dinyatakan dengan angka atau
menyambung huruf dalam kata yang dieja satu-satu.
Misalnya:
·
11-11-2013
·
p-a-n-i-t-i-a
III.E.4. Tanda hubung dapat dipakai
untuk memperjelas hubungan bagian kata atau ungkapan.
Misalnya:
·
ber-evolusi
·
meng-ukur
·
dua-puluh-lima ribuan (25 x
1.000)
·
23/25 (dua-puluh-tiga
perdua-puluh-lima)
·
mesin hitung-tangan
Bandingkan
dengan
·
be-revolusi
·
me-ngukur
·
dua-puluh lima-ribuan (20 x
5.000)
·
20 3/25 (dua-puluh tiga
perdua-puluh-lima)
·
mesin-hitung tangan
III.E.5. Tanda hubung dipakai untuk
merangkai
a. se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf
kapital (se-Indonesia, se-Jawa Barat);
b. ke- dengan angka (peringkat ke-2);
c. angka dengan –an (tahun 1950-an);
d. kata atau imbuhan dengan singkatan yang berupa huruf kapital (hari-H,
sinar-X, ber-KTP, di-SK-kan); e. kata dengan kata ganti
Tuhan (ciptaan-Nya, atas rahmat-Mu);
f. huruf dan angka (D-3, S-1, S-2); dan
g. kata ganti -ku, -mu, dan -nya dengan
singkatan yang berupa huruf kapital (KTP-mu, SIM-nya, STNK-ku).
Catatan:
Tanda hubung tidak dipakai di antara huruf dan angka jika
angka tersebut melambangkan jumlah huruf.
Misalnya:
·
BNP2TKI (Badan Nasional
Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia)
·
LP3I (Lembaga Pendidikan dan
Pengembangan Profesi Indonesia)
·
P3K (pertolongan pertama pada
kecelakaan)
III.E.6. Tanda hubung dipakai untuk
merangkai unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa daerah atau bahasa asing.
Misalnya:
·
di-sowan-i (bahasa Jawa,
'didatangi')
·
ber-pariban (bahasa
Batak, 'bersaudara sepupu')
·
di-back up
·
me-recall
·
pen-tackle-an
III.E.7. Tanda hubung digunakan
untuk menandai bentuk terikat yang menjadi objek bahasan.
Misalnya:
·
Kata pasca- berasal
dari bahasa Sanskerta.
·
Akhiran -isasi pada
kata betonisasi sebaiknya diubah menjadi pembetonan
III.F.1. Tanda pisah dapat dipakai
untuk membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar
bangun kalimat.
Misalnya:
·
Kemerdekaan bangsa itu—saya
yakin akan tercapai—diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri.
·
Keberhasilan itu—kita
sependapat—dapat dicapai jika kita mau berusaha keras.
III.F.2. Tanda pisah dapat dipakai
juga untuk menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain.
Misalnya:
·
Soekarno-Hatta—Proklamator
Kemerdekaan RI—diabadikan menjadi nama bandar udara internasional.
·
Rangkaian temuan ini—evolusi,
teori kenisbian, dan pembelahan atom—telah mengubah konsepsi kita tentang
alam semesta.
·
Gerakan Pengutamaan Bahasa
Indonesia—amanat Sumpah Pemuda—harus terus digelorakan.
III.F.3. Tanda pisah dipakai di
antara dua bilangan, tanggal, atau tempat yang berarti 'sampai dengan' atau
'sampai ke'.
Misalnya:
·
Tahun 2010—2013
·
Tanggal 5—10 April 2013
·
Jakarta—Bandung
III.G.1. Tanda tanya dipakai pada
akhir kalimat tanya.
Misalnya:
·
Kapan Hari Pendidikan Nasional
diperingati?
·
Siapa pencipta lagu
"Indonesia Raya"?
III.G.2. Tanda tanya dipakai di
dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang
kurang dapat dibuktikan kebenarannya.
Misalnya:
·
Monumen Nasional mulai dibangun
pada tahun 1961 (?).
·
Di Indonesia terdapat 740 (?)
bahasa daerah.
Komunikasi, merupakan suatu langkah tepat untuk
dapat memperoleh informasi dan juga menyampaikannya. Namun hal tersebut perlu
memperhatikan beberapa hal diantaranya adalah struktur penyusunan. Struktur penyusun
dalam komunikasi yaitu kalimat. Penggunaan kalimat yang sesuai tentu akan
berpengaruh terhadap pemahaman lawan bicara termasuk dengan penggunaan
konjungsinya. Konjungsi sendiri merupakan kata hubung yang digunakan untuk
menyambungkan antar kata, antar kalimat atau antar paragraph. Berikut ini jenis
kata hubung atau Konjungsi Berdasarkan Fungsi
Ditinjau dari segi fungsinya, konjungsi dapat
dibagi berdasarkan pengelompokan berikut.
1. Konjungsi Aditif (Konjungsi Gabungan)
Berfungsi untuk menggabungkan kata dengan kata,
frasa, klausa, atau kalimat yang kedudukannya setara.
Contoh: dan, lagipula, lagi, serta
2. Konjungsi Pertentangan
Menghubungkan dua kalimat sederajat, tetapi
mempertentangkan kalimat tersebut. Biasanya posisi kalimat kedua lebih penting
dibandingkan kalimat pertama.
Contoh : tetapi, sebaliknya, padahal, melainkan, sedangkan, akan tetapi, namun.
3. Konjungsi Korelatif
Menghubungkan dua kalimat yang berkaitan,
sehingga kalimat akan mempengaruhi atau melengkapi kalimat lainnya.
Contoh: semakin …..semakin, bertambah……bertambah, tidak hanya….tetapi juga…,
sedemikian rupa…, kian….. kian, sehingga…, baik…, maupun.
4. Konjungsi Disjungtif (Konjungsi Pilihan)
Konjungsi pilihan menghubungkan dua unsur
sederajat dengan tujuan memilih salah satu dari dua hal atau lebih.
Contoh: maupun, baik…baik…, atau, entah…entah…,
atau….atau,
5. Konjungsi Kausalitas
Menjelaskan bahwa peristiwa yang satu terjadi
akibat sebab tertentu. Setiap kalimat berperan sebagai anak kalimat atau induk
kalimat.
Contoh: sebab, karena, sebab itu, dan karena
itu
6. Konjungsi Waktu (Konjungsi Temporal)
Menjelaskan hubungan waktu antara dua hal atau
peristiwa.
Contoh untuk menghubungkan kalimat tidak
sederajat: apabila, seraya, bilamana, hingga, sementara, sejak, selama, ketika,
semenjak, bila, sambil, sebelum, sampai, demi, sedari, waktu, setelah, sesudah,
tatkala
Contoh untuk menghubungkan kalimat yang
sederajat: sebelumnya, sesudahnya
7. Konjungsi Final (Konjungsi Tujuan)
Menjelaskan maksud, tujuan peristiwa, atau
tindakan.
Contoh: guna, untuk, supaya, agar
8. Konjungsi Akibat (Konjungsi Konsekutif)
Menjelaskan bahwa suatu peristiwa muncul
disebabkan peristiwa lainnya. Bagian peristiwa penyebab diletakkan pada bagian
induk kalimat, sedangkan bagian anak kalimat menunjukkan akibat.
Contoh: sehingga, sampai, akibatnya.
9. Konjungsi Syarat (Konjungsi Kondisional)
Menjelaskan jika terjadinya suatu hal
disebabkan adanya syarat-syarat yang terpenuhi.
Contoh: Jika, jikalau, apabila, kalau, asalkan,
bilamana.
10. Konjungsi Perbandingan
Menghubungkan dua hal dengan membandingkannya.
Contoh: sebagai, seakan-akan, seperti, bak,
bagaikan, umpama, sebagaimana, bagai, ibarat,
11. Konjungsi Tak Bersyarat
Menjelaskan jika terjadinya suatu hal tidak
membutuhkan syarat tertentu.
Contoh: walaupun, meskipun, biarpun,
kendatipun, sekalipun
12. Konjungsi Penjelas (Konjungsi Penetap)
Menghubungkan bagian kalimat terdahulu dengan
rinciannya.
Contoh: bahwa.
13. Konjungsi Pembenaran (Konjungsi Konsesif)
Menghubungkan dua hal dengan cara membenarkan
atau mengakui suatu hal pada induk kalimat. Di sisi lain, konjungsi ini juga
menolak hal yang lainnya pada anak kalimat.
Contoh: walaupun, meskipun, biar, sungguhpun,
biarpun, kendatipun, dan sekalipun.
14. Konjungsi Penegas (Konjungsi Intensifikasi)
Menegaskan maupun meringkas kalimat yang
sebelumnya sudah disebutkan.
Contoh: bahkan, ringkasnya, misalnya, apalagi,
yaitu, yakni, umpama, akhirnya.
15. Konjungsi Urutan
Menyatakan urutan suatu hal.
Contoh: mula-mula, lalu, dan kemudian.
16. Konjungsi Penanda
Menunjukkan penandaan pada suatu hal.
Contoh: misalnya, umpama, contohnya.
17. Konjungsi Pembatasan
Menyatakan pembatasan terhadap sesuatu.
Contoh: kecuali, selain, asalkan.
18. Konjungsi Situasi
Menjelaskan perbuatan yang terjadi dalam waktu
tertentu.
Contoh: sedang, padahal, sedangkan, sambil.
Demikianlah rangkuman tentang jenis-jenis
konjungsi, semoga bermanfaat.






